Thursday, October 4, 2012

di luar sana, pt 4

Halllo semua. Sudah lama tak berjumpa.
Tp gue orangnya susah kalo disuruh basa-basi jd kita to the point aja ya, melanjutkan kisah yang ini mungkin akan jadi bagian terakhir dari. maksudnya, melanjutkan kisah yang akan selesai dengan post ini. (lebih efektif.)
yang terakhir ini tentang waktu gue menghabiskan waktu sehari di dormitory kakak gue.
dorm nya lumayan besar krn dia senior, dan dia jg punya roommate, seorang cewek yang bermuka manis, nggak terlalu gendut tp ngerasa dia gendut, jago banget masak, dan tingkat kemalasannya bersih-bersih cukup setara dg gue.
siang itu pas gue datang berkunjung dia lagi ada di situ sama kakak gue. kita diperkenalkan, dan kakak gue menceritakan tentang bakat masaknya yg dikatakannya luar biasa dan kesenangannya dengan indomie, yang dibawa pulang kakak gue dari indonesia. katanya pas nonton The Raid bareng, roommate nya norak banget pas ada scene dimana ada orang2 lg makan indomie. katanya ampe jerit2 "Hey, that's indomie! indomie!" dg lantang.
namun gue selama perkenalan nggak terlalu bisa fokus karena ada bau masakan yg enak banget dateng dari dapur. gue penasaran, apa ya? baunya kyk... keju, tapi enak.
lalu roommate nya ini menyatakan sudah waktunya makan siang dan kita dengan bahagianya pindah posisi ke dapur. dan ternyata oh ternyata, yang sedang mendidih di atas kompor adalah...sop buntut.
wah, sop buntut di america. gue terharu. tp baru sekali ini sop buntut aromanya bisa seenak itu.
dg buru2 gue pun ngambil makanan dan duduk.
nah, komentar selama orang makan sop buntut itu apa sih, range-nya? (btw, sop buntut buatannya itu enak banget. kyk ngeleburin konsep makan nan kampung itu dengan flavor bumbu italia.) palingan enak/nggaknya. mentok2 cara masaknya gimana.
tp inilah kakak gue, seorang ilmuan biokimia, dan roommate nya, yg kuliahnya ngambil bidang geofisika. tak gue sangka omongannya menjadi sangat high-class.

kakak: "Hmm." *ngangkat dagingnya* "This meat is so soft. I wonder if there's a difference in the physically-influencing part of the DNA of the tailbone meat from the rest of the body that makes it so malleable under sufficient heating."
roommate: "I don't think it's the DNA. I think maybe the tissue structure is different, or perhaps because the muscles are so rarely used they've semi-atrophied."
kakak: "Hmm..." *ngeliat tulangnya* "And the marrow is so soft too, but the outside is hard. It's like spongy cartilage but layered with an osseous tissue. The rigidity appears to give it its coral-like three-dimensional internal structure, like a femur bone."

gue, yg hanyalah orang awam, cuma bisa menelan potongan wortel dengan diam.
setelah makan siang gue diajak liat2 kota. pertama2 kita ke boston library, yg gedenya membuat hati amat bahagia. "wow!" gue bilang pas ngeliat. kakak gue senyum. "Pengen ya punya perpus kyk gini di indonesia?" (gue terjemahin)
"What? Impossible," gue jawab selagi masuk. "Kalo di Indonesia ada gedung segede ini, pasti bakal dijadiin mal."
sedih.
setelah ke perpus, roommate kakak gue menyarankan kita nyoba frozen yoghurt di toko baru yang nggak jauh dari dormitory. disana kita beli harus bayar sesuai berat frozen yoghurt yg kita ambil, beserta toppingnya. karena inilah gue ama kakak gue sangat selektif dalam memilih topping untuk menghemat.
namun roommate nya agak sulit dg ini.
"Okay! I'll just take this," ujarnya penuh niat sambil menghiasi yoghurtnya dengan chocolate chips.
Udah mau jalan ke kasir, balik lagi. "Ooh, but I love Hersheys." Ditambahkan olehnya sprinkle coklat Hersheys.
Mau jalan ke kasir lagi, baalik lagi. "But I can't just forget about the M&M's!"
siklusnya terulang beberapa kali sehingga ia pun dengan lunglai jalan ke kasir dengan frozen yoghurt dipenuhi dengan segala jenis macem dari yang coklat ampe ke mochi yang warna-warni.
"I'm starting a diet tomorrow," dia bilang ke gue saat gue menatapi yoghurtnya.
"Ok," gue bilang.