Saturday, November 10, 2012

lift dan tetangga...dan pisang

lift, menurut gue, adalah tempat paling dijamin untuk dapetin gosip terbaru. apalagi kalo lift apartemen, yang biasanya dihuni oleh ibu-ibu agak-lebih-high-class dan ga segan2 berbagi berita terbaru dengan temennya walau lift penuh dengan orang2 lain.
contohnya, gue tahu kenapa seorang seleb yang dulu tinggal di apartemen gue pindah, kenapa cowo ngga boleh lagi main ke apartemen cewe berduaan, dan kenapa manager gedung gue kerap mengamuk dan bermakeup tebal, itu semua dari gue nguping pembicaraan mereka.
TAPI nggak nguping juga, ayolah, ruang sesempit itu kan susah untuk ga ngedengerin. lagian mereka ngomong tuh membahana kyk lagi ngomentarin bola.

lanjuut. nah, yang namanya spesies ibu2 di apartemen gue itu ada beberapa yang aneh. sangat aneh, bahkan. dan menurut gue yang paling aneh sampe sekarang adalah Ibu2 Pisang, seorang ibu2 yang gue temui di lift kemarin malem.
Ibu2 Pisang ini sekilas tampak normal. rambut dicat agak kemerahan khas ibu2, baju warna warni, tas kinclong dan sepatu flats. gue nggak terlalu merhatiin dia sampe kita berdua di dalam lift dan tiba2 blackberry-nya bunyi, dengan ringtone melodi piano yang, sebenarnya, kedengeran cukup dewasa.
dia membuka pembicaraan dengan "Ya?" standar. berlanjut ke "Uhuh, uhuh" dan "Mmm..."
lalu disusul tiba2, "Apa?" yang sangat sinetron.
sampai titik itu gue langsung memperhatikan dengan seksama. matanya lebar. horor. "Nggak, nggak," dia setengah-teriak. "Nggak, itu...hidupku... Nggak, jangan! Jangan pisangnya!"

dafuq. dari yang gue dengar, yakni "hidupku" dan "jangan pisangnya", gue jadi sangat waswas ini ibu2 kenapa. atau mungkin gue yang salah denger--percayalah, riwayat kesalahdengaran gue itu cukup panjang. gue lupa gue dipanggil budek berapa kali sama temen2 gue.

"Tolong jangan," dia memohon ke dalam blackberrynya. "jangan."

hening.

akhirnya dia geleng2 dan tutup telpon tanpa salam pisah atau apa. blackberrynya dimasukin ke dalam tas kinclong dan dia menengok ke arah kaca yang ada di lift. gue dengan kaget melihat matanya berkaca2. sumpah, ini pisang kenapa sih? kok bisa sampe menggugah emosinya seorang ibu2? apa mungkin itu suatu nama sandi? tapi kalo emang bener itu pisang, bener2 buah pisang... well... that's some serious love for bananas.
yang jelas gue dengan cepat memalingkan wajah ketika dia ngeliat bayangan gue di kaca ngepelototin dia.