kebetulan, safina mintanya jd demon.
gue, hepi, ama piani protes. ga cocok bgt mukanya safina yg innocent dan tak kenal salah itu jd demon -__- tp safina udh capek jd angel kyknya. lalu masalah yg sbnrnya muncul.
"tampang lo hrs jd kyk demon dong saf," kata hepi.
smua hening.
"coba saf!" kata gue.
safina dg niat yg kuat lgsg nyoba masang tampang demon.
mukanya kyk org kena wasir.
"ulang lagi!" rujuk kta. "yg lebih...MARAH!!"
safina mncoba lg. entah kenapa bibirnya malah monyong.
"bibirnya jgn gitu!" cibir kta. "nyante aja!"
usaha kta mengajari safina cara bermuka setan dipotong pendek krn kta hrs cepet2 pemanasan bwt softball. abis itu kan gue ama safina latian pitching, trus ganti2an sm anak kls 7 jd gue sempet ngajarin bentar.
"ayo saf!" gue nyemangatin dg nafsu. "coba kamu bayangin aku sbg orang yg paaaling kamu benci! yg pengen kamu marahin! yg pengen kamu bakarrrr!! keluarkan amarah itu! ayo coba lagi!"
safina malah mengernyit. "siapa ya?"
sayang2 gue brpidato keren.
"masa kamu gaada orang yg dibenci?" gue hardik kejam. dy geleng pala. "org yg...kurang kamu sukain?" tny gue lemes. "ga ada," katanya polos. buset dah. "coba ajalah! pura2," gue suruh.
usaha kedua: "kyk lg ngantuk, saf."
usaha ketiga: "kok malah tampang sakau?"
usaha keempat: "hampiiiir...aja."
usaha kelima: "tuh kan bibirnya miring lagi."
bbrp usaha kemudian...
"brit! brit! gue bisa," jeritnya bangga. segera ia memperlihatkan muka demonnya. dan trnyata bener, tampangnya udah mirip tampang demon! kta bersukacita bersama.
tapi gue jd inget satu hal.
"nah, pertanyaan sebenarnya adalah, kamu bisa ga pertahanin selama setengahjam?"
hening.
No comments:
Post a Comment