maaf atas ketidakhadiran gue selama beberapa minggu ini...belakangan males buka laptop dan juga dihalangi oleh mos di SMA. (kyknya pengalaman yg itu ga bakal gue masukin blog. jaga2.) langsung saja gue akan nerusin kisah yg nggak selesai2 di amrik.
Belum beberapa lama di sana gue tiba2 sadar, saat jalan2 atau lagi ada di tempat umum, bahwa hampir semua cowo yang gue liat dan melintas di hadapan gue itu kok ganteng banget. gue ngerasa kyk cewe2 centil di indonesia yang setiap satu dlm lima cowo yang lewat dibilang ganteng (wlopun nggak. dan bisa lebih dari satu dari lima cowo.) dan kyknya reaksi orang2 di sekitar gue nanggepin mereka dengan amat santai, bahkan beberapa temen gue ada yang bilangin jelek. lalu terpikirlah, gila ya gue ini kenapa?
abis dipikirin muncullah dua teori. yg pertama -- krn cowo di indonesia itu rata2 jelek semua, pemandangan baru di amrik yang berstandar lbh tinggi berdampak atas alam-bawah-sadar gue sehingga cowo bule yang dianggep biasa aja keliatan cakep bgt buat gue dan yg ganteng keliatan amat sangat cakep buat gue. yg kedua -- emang gen2 para bule itu semakin membaik seiring bertambahnya keturunan dan temen2 gue yang selalu dikelilingi dengan mereka pun standarnya jauh lebih tinggi dibanding gue.
sayangnya kedua teori ini membuat gue merasa menyedihkan.
nah, walaupun gue sistem nginep di sana itu nomaden alias berpindah-pindah dari rumah teman yg satu ke yg lainnya, keluarga gue pny sejenis markas di rumah temen nyokap gue. dan temen nyokap gue ini punya anak cowo yg tiga taun lbh tua dibanding gue. dan temen nyokap gue ini, sejak gue berumur sepuluh taun, berusaha mati2an utk menjodohkan gue dg anaknya itu.
oke, oke. saya mengakui. anaknya ganteng dan baik bgt dan...single. (tp inget kedua teori gue.)
krn usaha nyokapnya yg bener2 transparan, interaksi antara gue sama anak itu seringkali awkward. contohnya, di saat makan malam, gue abis makan dan gue sebagai tamu yg baik *eaa* embat piringnya buat dicuci sekalian. trjadilah percakapan yg akan gue terjemahin.
dia: "eh nggak usah dicuci, entar gue aja sendiri"
gue: "sisa nasinya udah nempel tauk. susah nyucinya kalau dibiarin kelamaan."
dia: "yaaa gapapa, udah gue aja"
gue: "telat"
dia: "tapi gue ga enak sama lo kalo lo yg nyuci"
gue: "ya...."
*hening awkward*
gue: "udah sana, I got this" *sok keren*
dia: "uh...okay then. makasih." *raba2 leher dg awkward*
gue: "yep. ahah." *ketawa dg awkward*
nah itu sebatas percakapan. kalo tindakan...
kita trnyata punya satu hobi yg sama, yaitu ke perpus. pada suatu saat, temen nyokap sadar kalo gue lg pengen ke perpus dan tanpa ampun dia lgsg nyerang cowo itu. disuruhnya "sekalian bareng aja ke perpus", krn kebetulan dia lg pengen ngembaliin buku pinjaman kesana. terjebaklah gue dlm situasi nan awkward lg.
udah cuma berdua ke sananya, naik scooter pula. anak itu baru beli motor beberapa hari yg lalu dan bangganya stngh mati, kemana2 bakal naik scooter kesayangannya itu. dg tegas nyokapnya bilang, "kesana barengan naik scooternya aja! biar gampang!"
gue, yg tak berkuasa ini, hanya bisa ketawa palsu.
turunlah kita ke driveway dan cowo itu dgn gerakan agak canggung menaiki scooterrnya. gue ikut naik di belakang, yg agak susah karena gue berusaha sepenuh tenaga utk naik tanpa nyinggung bagian apapun dari tubuhnya. terciptalah jarak sekitar tiga senti antara badan gue dg badannya. jarak aman, pikir gue.
lalu gue sadar, sialan. ini amrik. lo kalo naik motor harus pegangan sama orang yang nyetir.
seolah keadaan ga bisa tambah parah nyokapnya yang mengawasi dari balkon teriak, "Britaaaa!!! Hold onto him!!!"
dfffffff.
"Um..." gue gelagapan. "sori ya!" tanpa berpikir panjang gue meletakkan tangan di bahunya dan meringis. kok rasanya kyk megang sesuatu yg terlarang.
dibawah tangan gue bahunya agak merileks. "no problem," ujarnya singkat, dan dia pun nginjek gas. sampai ke toko buku, menurut gue ini bagian yg cukup lawak. gue langsung meroket ke sektor buku novel, sdgkan dia...ke sektor majalah.
aneh sekali. sbg cewe layaknya gue yg ke sektor majalah dan dia ke novel. gue berusaha nginget2 majalah cowo yg pernah gue liat dan ketika sadar kalau isinya itu biasanya yg..."nggak-nggak" (ya, namanya juga majalah cowo) gue lgsg ganti topik di kepala. ogah mikir ke situ.
pas pulang lagi ke rumahnya, gue ngibrit ke kamar dan dia ngibrit ke kamar mandi, dlm kata lain ke dua arah yang berlawanan. nyokapnya hanya bisa berdiri di bawah tangga dan manggil2 bingung, "eh? jadi tadi gimana ke perpusnya?"
I know that feel bro (perpus).
ReplyDelete